Tampilkan postingan dengan label Pelatihan Pencaker B2PLKLN-Cevest Bekasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelatihan Pencaker B2PLKLN-Cevest Bekasi. Tampilkan semua postingan

Ginanzar Panji, Seorang alumnus SMEA dan operator bubut yang handal

What a manpower you are! Begitu kesan akhir bagi seorang Ginanzar Panji. Alumnus SMEA jurusan pemasaran yang sekarang handal menjadi operator mesin bubut dan milling, setelah digembleng selama 300-an jam pada pelatihan pencaker 2009 kejuruan mesin Cevest Bekasi. Energik, cerdas, dan selalu ingin menggali suatu ilmu dan keahlian. Rajin menggali informasi dan seakan tidak mau kalah dengan teman-temannya yang berlatar belakang keteknikan.

Terakhir bertemu, dia sudah menitipkan lamaran kerja di Cikarang dan Bogor. Pendapatnya, "anak muda seperti saya harus segera bekerja!".

Pada saat pelatihan, dia sempat menjadi "tolok ukur" bagi peserta pelatihan lainnya. Barangkali karena latar belakangnya yang "sosial". Kenyataannya, kemampuannya melebihi latar belakangnya. Dari segi target waktu, proses dan hasil pekerjaan (job), memberi skor yang sangat memuaskan. Hasil evaluasi akhir, memberikan sinyal terhadap masa depannya yang cerah.

Selamat berjuang alumni pencaker 2009, pada saat pelatihan diriku masih terngiang uraian Pak Syarif-salah seorang instruktur- "Jika Ginanzar bisa, pasti yang lain bisa!" seakan memberi semangat dan inspirasi generasi sesudahmu untuk terus berusaha, belajar, berlatih, strong will and determination! Kamu jadi bagian penting bagi sejarah Cevest dan pelatihannya.

Sunoto, pencaker dengan nilai Gambar Teknik terbaik

Namanya "Sunoto", seorang alumnus SMK kejuruan Teknik Mesin di kota Tegal. Jauh-jauh dari tempat tinggalnya untuk belajar dan berlatih. Kejuruan mesin Cevest menjadi tujuannya. Harapannya mendapatkan pekerjaan setelah berlatih. Pada pelatihan pencaker 2009 ini dia lolos untuk masuk pada angkatan pertama.

Menjadi instruktur gambar teknik dan seringnya memberi tugas, me-review, dan melakukan penilaian atas pekerjaan (job) siswa, memberi keuntungan untuk hafal dengan nama dan wajah mereka. Sunoto, salah satunya. Orangnya tidak banyak bicara, sabar, telaten, dan tangkas dalam bekerja. Kesan mendalam ketika mengamatinya selalu serius dalam bekerja, mengingatkanku pada proverb "talk less and do more". Meskipun demikian, disaat-saat istirahat saling sambung rasa untuk berkomunikasi dan tukar-menukar pengalaman terasa sangat lancar.

Sunoto, semakin hari semakin memberi kesan. Materi gambar teknik yang materinya sebagian besar memberi penekanan pada logika geometri tidak membuatnya kesulitan. Hingga, evaluasi akhir diadakan dan kesuksesan diraihnya. Skor tertinggi didapatkannya ditengah-tengah soal yang tidak bisa dianggap mudah. Dalam hati saya bergumam "sebetulnya anak ini punya logika yang extended, mampu mengatasi rintangan psikologis terhadap soal yang tampaknya tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang terbatas". But, dia bisa! Hebat..., kagum. Begini seharusnya SDM Indonesia, tak layak mendapatkan posisi sebagai "pengangguran" dan kesulitan mencari kerja.

Kemarin, Sunoto muncul lagi setelah sekitar seminggu penutupan pelatihan operator bubut. Tatapan penuh harap untuk segera bekerja berkelebat ketika kutawari untuk sejenak singgah. "Mengambil sertifikat, Pak! Untuk mencari kerja!" serunya ditengah kesibukan bekerjaku. Do'aku teriring saat jabat tangan kita. "Sabar, istiqomah, usaha lahir dan batin!" refleks terucap bersama pikranku yang sibuk menerka-nerka masa depan mereka. Indonesia, Sunoto dan kawan-kawan ingin segera berkiprah...